Daun-daun bergoyang mengikuti irama angin
Bintang siang soroti seluruh alam semesta
Jalan panjang terbentang diantara ilalang
Aku duduk dibawah payung dahan-dahan kering yang perlahan berjatuhan
Kulihat seorang penggembala duduk di atas punggung perkasa sang kerbau
Sambil mainkan musik alam dari sebilah bambu
dia tersenyum ramah dan meniupkan alunan-alunan sabda alam
seolah menyuruh jiwaku terhanyut tarian-tarian bunga-bunga bermekaran yang mewarnai setiap sudut jalan setapak yang selalu kulalui
Namun, ketika kukembali dari sentuhan halus realitas dunia
kuhanya temukan bidangan tanah yang gersang tanpa hijaunya klorofil sang pohon
tak ada nyanyian musim semi hanyalah ada suara mengaung dari cerobong-cerobong asap pabrik
Tak ada ramah tamah sang penggembala
yang ada hanyalah wajah-wajah kelelahan penuh peluh tanpa sekilas senyum pun diharinya
bagaimana mungkin dia tersenyum bahagia melihat indahnya dunia untuk memikirkan sesuap nasi yang akan dimakannya pun susah sungguh
Ah,sudah berhari-hari tak ada sesuatu apa untuk mengganjal perutnya yang lapar
mungkin dia harus mengais-ngais tempat penuh sampah berharap temukan sisa makanan yang bisa dia makan untuk meneruskan hidupnya
pelik sungguh yang terasa saat semua tampak memudar dari kasih sayang alam
Rindu alam pun kini kubisikan di setiap daun-daun berguguran
harapku dia kan mendengar dan kembali bangkit dari tidurnya yang panjang
Tags: alam, penyair, puisi kerinduan, puisi rindu, rindu