August 25, 2009
Dia datang disaat luka hati terbuka tersiram asam nitrat
Dia hampiriku meraih diriku yang terkulai
Entah apa yang menampakan kilatan sinarnya
membutakan hati yang terhempas ditengah gejolak asa
Ah.. dia datang
membawa lari sejuta kebahagiaan jiwaku
Mungkinkah dia membuatkan makam tuk persemayamanku terakhir
Ah..dia datang
Aku ingin berlari namun tubuh ini terlalu lemah lunglai hingga tak kuasa lagi kugerakkan
Tags: kecewa, penyair, puisi, puisi kecewa, Puisi Riena, puisi sedih, sedih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
August 12, 2009
Angin berhembus menyebar kesenduan menyangat di semesta alam
Awan mengukir kesedihan terpancar di wajah2 langit
delapan juta orang bergerumul padati tanah merah yang lapang
kulihat paras kepedihan mendalam dijiwa mereka
semerbak wangi kamboja menusuk hidung tersebar di udara lepas
hujan air mata mengguyur persada alam
Indonesia berkabung
Melepas kepergian orang-orang terkasih
Mereka selalu berikan karya terbaik bagi bangsa disepanjang hayatnya
Indonesia menangis
Meraung kesakitan mendalam kehilangan putra-putra bangsa terbaik
Tak ada yang bisa menandingi mereka hingga ujung usia pertiwi
Indonesia berduka
Karangan bunga yang tersemat di nisan hanyalah sebuah simbol penyesalan
tak ada yang kembali setelah perpisahan terakhir untuk selamanya
Indonesia Berharap
Kepergian putra-putra kebanggaannya tak akan meluluhkan semangat benih-benih pejuang
yang terus menuangkan buah pikirannya dalam goresan tinta abadi kesuksesan di kertas perjalanan bangsa
Tags: berkabung, indonesia, indonesia berkabung, penyair, puisi, puisi sedih
Posted in indonesia menangis | Leave a Comment »
August 12, 2009
Daun-daun bergoyang mengikuti irama angin
Bintang siang soroti seluruh alam semesta
Jalan panjang terbentang diantara ilalang
Aku duduk dibawah payung dahan-dahan kering yang perlahan berjatuhan
Kulihat seorang penggembala duduk di atas punggung perkasa sang kerbau
Sambil mainkan musik alam dari sebilah bambu
dia tersenyum ramah dan meniupkan alunan-alunan sabda alam
seolah menyuruh jiwaku terhanyut tarian-tarian bunga-bunga bermekaran yang mewarnai setiap sudut jalan setapak yang selalu kulalui
Namun, ketika kukembali dari sentuhan halus realitas dunia
kuhanya temukan bidangan tanah yang gersang tanpa hijaunya klorofil sang pohon
tak ada nyanyian musim semi hanyalah ada suara mengaung dari cerobong-cerobong asap pabrik
Tak ada ramah tamah sang penggembala
yang ada hanyalah wajah-wajah kelelahan penuh peluh tanpa sekilas senyum pun diharinya
bagaimana mungkin dia tersenyum bahagia melihat indahnya dunia untuk memikirkan sesuap nasi yang akan dimakannya pun susah sungguh
Ah,sudah berhari-hari tak ada sesuatu apa untuk mengganjal perutnya yang lapar
mungkin dia harus mengais-ngais tempat penuh sampah berharap temukan sisa makanan yang bisa dia makan untuk meneruskan hidupnya
pelik sungguh yang terasa saat semua tampak memudar dari kasih sayang alam
Rindu alam pun kini kubisikan di setiap daun-daun berguguran
harapku dia kan mendengar dan kembali bangkit dari tidurnya yang panjang
Tags: alam, penyair, puisi kerinduan, puisi rindu, rindu
Posted in indonesia menangis | Leave a Comment »
August 5, 2009
Bulan purnama menghiasi langit malam
Aku duduk termangu menatap ke atas
mencoba mencari bintang berpendar
terang benderang seperti cahaya yang slalu
kau berikan untukku
Namun sayang, angin malam tak bersahabat
dia mulai menusuk lapisan kulitku timbulkan dingin menyangat
Dan perlahan aku pun tenggelam di kedinginan sisakan
hampa tanpamu disisi,merenung sepi sendiri
Tags: penyair, puisi, puisi cinta, puisi rindu, puisi untuk kekasih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
August 5, 2009
Sayang, tak adakah terbelesit dipikiranmu
satu tetes embun ketulusan cinta untukku
semua menjasi tak berarti bagimu saat terlenakan harta
dan hartalah yang kau cari dariku bukan ketulusan
hatiku yang menyayangimu seperti mentari yang sinari pagi
dan rembulan yang pancarkan cahaya keperakan tanpa
harapan balasan dari sang bumi
Oh, kekasih katakanlah satu ucap saja
janganlah kau membisu mengunci rapat mulutmu dan
palingkanlah wajah kesombonganmu atas hancurnya puing-puing taman cintaku
Kekasih, katakanlah inikah balasan dari cinta tulus yang kuberi saat kau agungkan
dewi cinta beratasnamakan harta dan harta adalah segalanya untukmu
bagimu, tanpa harta tak ada lagi cinta yang kau beri untukku
Tak ragu kau pun hempaskan tubuh lemahku terkulai jatuh bersimbah
darah pengharapan pun berakhir
Tags: penyair, puisi, puisi cinta, puisi kecewa, puisi sedih, puisi untuk kekasih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
July 28, 2009
saat kutengah terluka, kau sapa aku dengan rangkain kata-kata cinta.
hm..seolah kau tak pernah ingat atas penusukan tubuhku yang sebabkan cacat permanen di dasar hatiku
Haruskah kuhilangkah ingatanku atas luka terdalam ini dan menyambutmu penuh kasih sayang tulus?
walau harus kuakui sampai saat ini hanyalah dirimu yang terukir dalam lukisan kasih jiwaku..
Tags: penyair, puisi, puisi cinta, puisi kecewa, puisi sedih, puisi untuk kekasih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
July 28, 2009
Kepingan darahku enggan membeku
tuk tutup luka sayatan pedang cintamu yang berlumur racun berbisa
kau kian hempaskan aku dan ludahiku sesaat sebelum meninggalkanku
Perih tak tertahan kubawa berlari
menembus cakrawala walau nafasku tersengal di tenggorokan
Namun di sisa hirupan oksigen terakhir ku masih menyebut namamu..
“sayang”
Tags: penyair, puisi cinta, puisi kecewa, Puisi Riena, puisi sedih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
July 9, 2009
kurasakan sentuhan gaib menjemputku keluar dari persemayamanku
dia memegang sehelai kain dan setangkai bunga violet
wajahnya tampan bak pangeran yang kukenal di jiwaku
kuselusuri jalan penuh bebatuan tajam tanpa alas kaki
ujung-ujung kulitku mengelupas, darah menceruat keluar perlahan
namun aku tetap bertahan demi bersamanya
Aku tak perduli bisikan-bisikan mereka yang menghadangku tuk kembali
karena aku yakin dia akan menuntunku dengan lentera hidupnya yang terang
keyakinanku begitu hebat sampai mengalahkan semua egoku
aku tetap menelusuri sampai ke tepi dalam lembah ngarai
Dia menatapku lembut menaruh bunga violet di sisi rambutku dan tersenyum
memandangku tajam seolah memberi semua harap nyata
namun sesaat dia mendorongku tanpa iba
Aku terjatuh ke alam tak berujung
Tags: penyair, puisi, puisi cinta, Puisi Riena, puisi sedih
Posted in Puisi Riena | Leave a Comment »
May 25, 2009
sayang, saat ini hatiku sangat terluka
tergores sembilu sakit sekali
saat kau bilang tak ingin bertemu dan kau masih sendiri tanpa memandangku ada di hatimu
sayang, taukah kamu
dulu aku selalu berharap ada keajaiban yang membuatmu berubah dan mewujudkan semua impian kita
namun saat kutau kau menyimpan sejuta rahasia dengan wanita lain yang mungkin kau sayangi
dan kau perlahan jauhi aku
tak ada lagi disampingku,tak perdulikanku walau seujung kuku pun
perlahan aku kehilangan fungsi organku
mereka enggan lagi bekerja tuk sokong tubuhku
karena pikiran dan otakku terus dan terus tertekan
aku tak bisa lagi berfikir jernih
aku tak bisa lagi memerintahkan otakku untuk menyuruh organ-organku berfungsi lagi
aku menyerah bagai seorang terpidana mati yang akan segera dieksekusi
semua perlawanan percuma hanya semakin buatku sakit dan tersiksa
penyesalan hanyalah tinggal sia-sia semata
tak ada gunanya lagi untukku ataupun untukmu
semua terlambat hanya tinggal menunggu waktu yang kian terkoyak masa melumpuhkan tubuhku dan jiwaku
Tags: puisi, puisi cinta, puisi kecewa, puisi sedih, puisi untuk kekasih
Posted in Puisi Riena | 2 Comments »
May 13, 2009
Aku bukanlah nuri pemilik sangkar emas
bertaburkan intan berlian yang selalu bisa setiap saat kau ambil
penuhi kantong kebutuhanmu
aku bukanlah sri dewi
yang berbalut kecantikan paras dan budi
selalu tebarkan pesona padamu
aku hanyalah seorang yang diterpa kehampaan
tanpa ada yang peduli memikirkan pikiran dan hatiku
hanya ada beban membelenggu di kehidupan ini
hanya ada air mata yang warnai hariku
setiap saat selalu kurasa langit mendung tiada cahaya mentari
hanya sendiri dikeramaian yang sepi
kau pun semakin menjauh…dan jauh
Tags: penyair, puisi, puisi kecewa, puisi sedih
Posted in Puisi Riena | 1 Comment »